Kelemahan Teori Scarcity

Krisis global yang melanda dunia saat ini adalah sebagai pertanda buruknya penataan system yang dikelola menggunakan pola capital. System capital yang berdiri atas dasar teori scarcity tidak mampu memberikan solusi yang baik dalam menyelesaikan permasalahan ekonomi global. Karena memang konsep dasar dari scarcity adalah konsep ketamakan manusia danmembawa sebuah kecacatan dalam pola sistemnya. Dalam teorinya manusia menganggap bahwa kebutuhan mereka tidak terbatas sedangkan pemenuh kebutuhan bersifat terbatas. Padahal setiap makhluk yang ada di dunia ini tentunya memiliki keterbatasan, termasuk keterbatasan dalam memenuhi kebutuhan mereka sendiri.

Hal ini tentunya memiliki sebuah kerumitan dalam pemahaman teori ini, jika memang kebutuhan manusia itu tidak terbatas sedangkan pemenuh kebutuhan itu bersifat terbatas, memang solusi mudahnya adalah memproduksi bahan pemenuh kebutuhan dalam skala yang amat besar (tanpa mampu untuk mempertimbangakan cara mendistribusikan barang pemenuh kebutuhan tersebut). Akibatnya bisa terjadi sebuah permainan harga karena jumlah produksi yang terlalu banyak tanpa diimbangi permintaan pasar sehingga menyebabkan inflasi dan juga menyebabkan eksplorasi sumber daya alam secara besar – besaran sehingga banyak kerusakan terhadap lingkungan. Padahal nantinya tidak semua barang yang terproduksi bisa dikonsumsi oleh banyak orang. Sehingga banyak terjadi ketimpangan dalam kehidupan social ekonomi di masyarakat


Pandangan global terhadap teori scarcity

Kelangkaan (scarcity) muncul sebagai akibat dari kondisi dimana keinginan manusia atas alat pemuas kebutuhan lebih besar dari jumlah alat pemuas kebutuhan yang tersedia. Berdasarkan kelangkaan tersebut, maka muncul apa yang disebut barang ekonomi, yaitu barang yang jumlah permintaannya lebih banyak dibandingkan jumlah barang yang tersedia. Barang ekonomi merupakan barang yang mempunyai nilai (harga). Jadi, barang memiliki nilai (harga) jika terdapat permintaan atas suatu barang dan jumlah permintaan tersebut lebih banyak dari barang yang tersedia. Jawaban atas permasalahan paradoks antara kebutuhan manusia yang tidak terbatas dengan terbatasnya (langkanya) sumber-sumber ekonomi yang tersedia, adalah dengan menambah jumlah produksi barang dan jasa setinggi-tingginya agar kebutuhan manusia yang tidak terbatas dapat diperkecil jaraknya.

Dengan demikian bisa mengandung pengertian konsekuensi dalam memahami hal ini. Pertama, bukan tidak mungkin dengan pola seperti ini (produksi massal) bisa menyebabkan sebuah permainan harga yang berujung pada sebuah perdagangan yang bersifat monopoli. Disebabkan banyak faktor yang terlibat dalam proses dalam pendistribusian karena dalam teori ini tidak disinggung tentang pendistribusian yang baik. Kedua, bisa jadi otoritas kepemerintahan tidak memiliki kewenangan dalam mengatur pertumbuhan pasar yang berhubungan dengan kesejahteraan warga banyak. Jika terjadi sebuah ketimpangan dalam sebuah system ekonomi negara bisa mencegah dan apalagi menyelamatkan keadaan disebabkan bebasnya pengawasan dalam system ini. Ketiga, dengan menggunakan system ini bisa menciptakan inflasi dalam suatu negara. Disebabkan pendistribusian yang kurang merata dalam barang produksi.

Tentunya ini semua adalah sifat pembawaan dalam pola scarcity yang membawa kecacatan. Dan tentunya sebuah keburukan tidak boleh banyak terkonsumsi oleh banyak orang yang akan menyebabkan tidak hanya kekacauan dalam dimensi ekonomi saja tetapi bisa menyangkut ke dimensi lain.

Benarkah Kebutuhan Manusia Tidak terbatas?



Sesungguhnya kebutuhan manusia terbatas. Kebutuhan manusia ada dua, kebutuhan pokok dan kebutuhan pelengkap. Kebutuhan pokok adalah kebutuhan manusia yang bersifat mendasar dimana bila kebutuhan ini tidak terpenuhi maka manusia akan mengalami kebinasaan atau kesengsaraan dalam hidup. Kebutuhan pokok ini terdiri dari sandang, pangan, papan, pendidikan, kesehatan dan keamanan. Manusia tidak akan bisa hidup tanpa makanan dan manusia akan sengsara bila kekurangan makanan, namun kebutuhan manusia akan makanan sangat terbatas. Manusia rata-rata hanya makan tiga piring dalam sehari, kalaupun ada yang lebih dari tiga piring dalam sehari, yang demikian hanyalah sedikit orang, itupun tidak akan sampai seratus piring dalam sehari apalagi tidak terbatas. Demikian pula dengan pakaian, manusia membutuhkan pakaian yang layak untuk dipakai sehari-hari yang berguna untuk melindungi badan dari cuaca dan untuk menjaga kehormatan diri, namun kebutuhan manusia akan pakaian juga terbatas, wajarnya setiap manusia berganti pakaian dua kali dalam sehari, sehingga kebutuhan akan pakaianpun juga terbatas. Kebutuhan manusia akan perumahan juga demikian, satu keluarga satu rumah sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sedangkan pendidikan, kesehatan dan keamanan adalah kebutuhan yang bersifat immateri (jasa).

Jenis kebutuhan ini juga terbatas, pendidikan memang luas, namun ilmu yang dibutuhkan manusia untuk hanya sekedar menjalani kehidupan dengan layak terbatas. Kesehatan juga demikian, tidak setiap hari manusia sakit, sehingga kebutuhan manusia akan kesehatan terbatas. Keamanan pun demikian, kriminalitas dapat ditekan dan kebutuhan manusia akan keamanan dapat dipenuhi dengan baik. Sedangkan kebutuhan pelengkap adalah kebutuhan tambahan dari kebutuhan pokok untuk mempernyaman kehidupan. Orang tidak binasa atau sengsara bila kebutuhan tidak terpenuhi. Contoh kebutuhan ini adalah memperindah rumah, memiliki mobil, rekreasi dll. Janis kebutuhan ini juga terbatas, karena pada dasarnya manusia dapat hidup lebih baik dan lebih nyaman tanpa harus memiliki segalanya. Jadi alasan apa lagi untuk menutupi ketamakan manusia?

Perbedaan mendasar antara ekonomi islam dan kapitalis dalam memenuhi barang kebutuhan

Terdapat perbedaan penting antara sistem ekonomi Islam dengan sistem ekonomi lainnya, khususnya Kapitalis dalam memandang apa sesungguhnya yang menjadi permasalahan ekonomi manusia. Menurut sistem ekonomi kapitalis, permasalahan ekonomi yang sesungguhnya adalah kelangkaan (scarcity) barang dan jasa. Hal ini karena setiap manusia mempunyai kebutuhan yang beranekaragam dan jumlahnya tidak terbatas sementara sarana pemuas (barang dan jasa) yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan manusia terbatas. Sebagai catatan yang dimaksud kebutuhan di sini mencakup kebutuhan (need) dan keinginan (want), sebab menurut pandangan ini pengertian antara kebutuhan (need) dan keinginan (want) adalah dua hal yang sama, yakni kebutuhan itu sendiri. Setiap kebutuhan yang ada pada diri manusia tersebut menuntut untuk dipenuhi oleh alat-alat dan sarana-sarana pemuas kebutuhan yang jumlahnya terbatas. Oleh karena di satu sisi kebutuhan manusia jumlahnya tidak terbatas sementara alat dan sarana yang digunakan untuk memenuhinya terbatas, maka muncullah konsep kelangkaan.

Dari pandangan tersebut di atas maka sistem ekonomi kapitalis menetapkan bahwa problematika ekonomi akan muncul pada setiap diri individu, masyarakat atau negara karena adanya keterbatasan barang dan jasa yang ada pada diri setiap individu, masyarakat atau negara untuk memenuhi kebutuhan manusia yang tidak terbatas. Karena itu disimpulkan bahwa problematika ekonomi yang sesungguhnya adalah karena adanya kelangkaan (scarcity).

Dari sinilah muncul pandangan dasar terhadap problematika ekonomi, yaitu tidak seimbangnya antara kebutuhan yang tidak terbatas dengan alat dan sarana pemuasnya yang terbatas. Sehingga dengan demikian barang dan jasa yang ada tidak bisa memenuhi seluruh kebutuhan manusia secara menyeluruh. Pada saat itulah masyarakat akan menghadapi problematika ekonomi, yaitu kelangkaan atau keterbatasan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia. Akibat pasti dari kelangkaan dan keterbatasan ini adalah adanya sebagian kebutuhan yang senantiasa tidak terpenuhi secara sempuma atau bahkan tidak terpenuhi sama sekali.

Dalam banyak literatur modern, istilah ilmu ekonomi secara umum dipahami sebagai suatu studi ilmiah yang mengkaji bagaimana orang-perorang atau kelompok-kelompok masyarakat menentukan pilihan. Pilihan harus dilakukan manusia pada saat akan memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari karena setiap manusia mempunyai keterbatasan (kelangkaan) dalam sumberdaya yang dimilikinya. Pilihan yang dimaksud menyangkut pilihan dalam kegiatan produksi, konsumsi, investasi, serta kegiatan distribusi barang dan jasa di tengah masyarakat. Intinya, pembahasan ilmu ekonomi ditujukan untuk memahami bagaimana masyarakat mengalokasikan keterbatasan (kelangkaan) sumberdaya yang dimilikinya.

Ilmu ekonomi membahas aktivitas yang berkaitan dengan: alokasi sumberdaya yang langka dalam kegiatan produksi untuk menghasilkan barang dan jasa; cara-cara memperoleh barang dan jasa; kegiatan konsumsi, yakni kegiatan pemanfaatan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan hidup; kegiatan investasi, yakni kegiatan pengembangan kepemilikan kekayaan yang dimiliki; serta kegiatan distribusi, yakni bagaimana menyalurkan barang dan jasa yang ada di tengah-tengah masyarakat. Seluruh kegiatan ekonomi—mulai dari produksi, konsumsi, investasi, serta distribusi barang dan jasa tersebut—dibahas dalam ilmu ekonomi yang sering dipaparkan dalam berbagai literatur ekonomi kapitalis.

Pandangan sistem ekonomi kapitalis di atas—yang memasukkan seluruh kegiatan ekonomi; mulai dari produksi, konsumsi, investasi, hingga distribusi dalam pembahasan ilmu ekonomi—berbeda dengan pandangan sistem ekonomi Islam. Perbedaan ini dapat diketahui dengan merujuk pada sumber-sumber hukum Islam berupa al-Qur’an dan as-Sunnah. Dalam sebuah hadis, Rasulullah saw. bersabda:

“Dua telapak kaki manusia akan selalu tegak (di hadapan Allah) hingga ia ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan; tentang ilmunya untuk apa ia pergunakan; tentang hartanya dari mana ia peroleh dan untuk apa ia pergunakan; dan tentang tubuhnya untuk apa ia korbankan.” [HR .at-Tirmidzi dari Abu Barzah r.a.].

Hadis di atas memberikan gambaran bahwa setiap manusia akan dimintai pentanggungjawabannya atas empat perkara: umur, ilmu, harta, dan tubuhnya. Tentang umur, ilmu, dan tubuhnya, setiap orang hanya ditanya dengan masing-masing satu pertanyaan. Tentang harta, setiap orang akan ditanya dengan dua pertanyaan, yakni dari mana harta diperoleh dan untuk apa harta dipergunakan. Dengan demikian, Islam mengatur dan memberi perhatian yang besar terhadap aktivitas manusia yang berhubungan dengan harta. Dengan kata lain, Islam memberikan perhatian yang besar pada bidang ekonomi.

Akan tetapi, pengaturan Islam dalam bidang ekonomi tidak mencakup seluruh kegiatan ekonomi. Dalam konteks pengadaan serta produksi barang dan jasa, Islam tidak mengaturnya; bahkan menyerahkannya kepada manusia. Islam hanya mengatur kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan tatacara perolehan harta (konsep kepemilikan); tatacara pengelolaan harta, mulai dari pemanfaatan (konsumsi) hingga pengembangan kepemilikan harta (investasi); serta tatacara pendistribusian harta di tengah-tengah masyarakat. Pembahasan tentang pengadaan dan produksi barang dan jasa dipandang sebagai bagian dari ilmu ekonomi. Sementara itu, pembahasan tentang tatacara perolehan, pengelolaan, dan pendistribusian harta di pandang sebagai bagian dari sistem ekonomi. Atas dasar ini, Islam memberikan pandangan yang berbeda terhadap ilmu ekonomi dan sistem ekonomi.

Dan pandangan demikian muncul pula solusi pemikiran untuk memecahkan problematika ekonomi tersebut dengan jalan menitikberatkan pada aspek produksi dan pertumbuhan sebagai upaya untuk meningkatkan barang dan jasa agar dapat memenuhi kebutuhan tersebut. Karena itulah maka sistem ekonom Kapitalis menitikberatkan perhatiannya pada upaya pemngkatkan produksi nasional dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Perhatian yang begitu besar terhadap aspek produksi dan pertumbuhan seringkali justru mengabaikan aspek distribusi dan kesej'ahteraan masyarakat banyak. Hal ini dapat dilihat dari keberpihakan yang sangat besar kepada para konglomerat, sebab pertumbuhan yang tinggi dengan mudah dapat dicapai dengan jalan ekonomi konglomerasi dan sulit ditempuh dengan mengandalkan ekonomi kecil dan menengah.

Karena sangat mengandalkan pada pertumbuhan ekonomi suatu negara, maka sistem ekonomi kapitalis tidak lagi memperhatikan apakah pertumbuhan ekonomi yang dicapai betul-betui riil yakni lebih mengandalkan sektor riil atau pertumbuhan ekonomi tersebut hanyalah semu, yakni mengandalkan sektor non-riil (sektor moneter). Dalam kenyataannya, sistem ekonomi kapitalis pertumbuhannya lebih dari 85 % ditopang oleh sektor non-riil dan sisanya sektor riil. Akibatnya adalah ketika sektor moneter ambruk, maka ekonomi negara-negara yang menganut sistem ekonomi kapitalis )uga ambruk.

Berbeda dengan sistem ekonomi kapitalis, maka sistem ekonomi Islam menetapkan bahwa problematika ekonomi yang utama adalah masalah rusaknya distribusi kekayaan di tengah masyarakat. Menurut Islam, pandangan sistem ekonomi kapitalis yang menyamakan antara pengertian kebutuhan (need) dengan keinginan (want) adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta. Keinginan (want) manusia memang tidak terbatas dan cenderung untuk terus bertambah dari waktu ke waktu. Sementara itu, kebutuhan manusia ada kebutuhan yang sifatnya merupakan kebutuhan pokok (al hajat al asasiyah) dan ada kebutuhan yang sifatnya pelengkap (al hajat al kamaliyat) yakni berupa kebutuhan sekunder dan tersier. Kebutuhan pokok manusia berupa pangan, sandang dan papan dalam kenyataannya adalah terbatas. Setiap orang yang telah kenyang makan makanan tertentu maka pada saat itu sebenamya kebutuhannya telah terpenuhi dan dia tidak menuntut untuk makan makanan lainnya. Setiap orang yang sudah memiliki pakaian tertentu meskipun hanya beberapa potong saja, maka sebenamya kebutuhan dia akan pakaian sudah terpenuhi.

Demikian pula jika orang telah menempati rumah tertentu untuk tempat tinggal meskipun hanya dengan jalan menyewa maka sebenarnya kebutuhannya akan rumah tinggal sudah terpenuhi. Dan jika manusia sudah mampu memenuhi kebutuhan pokoknya maka sebenarnya dia sudah dapat menjalani kehidupan ini tanpa mengalami kesulitan yang berarti.

Adapun kebutuhan manusia yang sifatnya pelengkap (sekunder dan tersier) maka memang pada kenyataannya selalu berkembang terus bertambah seiring dengan tingkat kesejahteraan individu dan peradaban masyarakatnya. Namun perlu ditekankan disini bahwa jika seorang individu atau suatu masyarakat tidak mampu memenuhi kebutuhan pelengkapnya, namun kebutuhan pokoknya terpenuhi, maka individu atau masyarakat tersebut tetap dapat menjalani kehidupannya tanpa kesulitan berarti. Oleh karena itu anggapan orang kapitalis bahwa kebutuhan manusia sifatnya tidak terbatas adalah tidak tepat sebab ada kebutuhan pokok yang sifatnya terbatas selain niemang ada kebutuhan pelengkap yang selalu berkembang dan terus bertambah.

Berbeda halnya dengan kebutuhan manusia, maka keinginan manusia memang tidak terbatas. Sebagai contoh seseorang yang sudah dapat makan kenyang kebutuhan akan makanan sudah terpenuhi tentunya ia dapat saja menginginkan makanan lainnya sebagai variasi dari makanannya. Demikian pula seseorang yang telah berpakaian kebutuhan akan pakaian telah terpenuhi tentunya dapat pula menginginkan pakaian lainnya yang lebih bagus dan lebih mahal. Contoh lainnya adalah seseorang yang telah memiliki rumah tinggal kebutuhan papannya telah terpenuhi tentunya dapat saja menginginkan rumah tinggal yang lebih besar dan lebih banyak. Oleh karena itu sebenarnya kebutuhan pokok manusia sifatnya terbatas adapun keinginan manusia memang tidak pernah akan habis selama ia masih hidup. Oleh karena itulah pandangan orang-orang kapitalis yang menyamakan antara kebutuhan dan keinginan adalah tidak tepat dan tidak sesuai dengan fakta yang ada.

Karena itulah permasalahan ekonomi yang sebenarnya adalah jika kebutuhan pokok setiap individu masyarakat tidak terpenuhi. Sementara itu barang dan jasa yang ada, kalau sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok seluruh manusia, maka jumlah sangat mencukupi. Namun karena distribusinya sangat timpang dan rusak, maka akan selalu kita temukan - meskipun di negara-negara kaya orang-orang miskin yang tidak mampu memenuhi kebutuhan pokok mereka secara layak.

Atas dasar inilah maka persoalan ekonomi yang sebenarnya adalah rusaknya distribusi kekayaan di tengah-tengah masyarakat. Dan untuk mengatasinya maka menurut sistem ekonomi Islam, haruslah dengan jalan memberi perhatian yang besar terhadap upaya perbaikan distribusi kekayaan di tengah masyarakat, namun aspek produksi dan pertumbuhan tetap tidak diabaikan.

Problematika ekonomi dan solusinya

Letak permasalahan ekonomi capital adalah tidak dibedakannya antara kebutuhan (needs) dengan keinginan (wants), inilah kelemahan mendasar teori scarcity. Kebutuhan manusia terbatas, sedangkan keinginan manusia tidak terbatas. Walaupun keinginan manusia tidak terbatas, namun keinginan manusia tetap terikat dengan persepsi manusia itu sendiri, sehingga keinginan manusia relatif mengikuti persepsi manusia itu sendiri. Ada manusia yang sekiranya mendapat satu gunung emas, dia menginginkan gunung emas yang kedua. Namun ada manusia yang sama sekali tidak menginginkan sekeping emas-pun karena dia memiliki persepsi bahwa dia hidup sederhana di dunia untuk meraih kehidupan lebih baik setelah kehidupan dunia. Walau manusia bisa menginginkan apapun, namun bisa jadi manusia tidak menginginkan “apapun” karena persepsinya. Jadi memang betul keinginan manusia tidak terbatas, namun keinginan manusia yang tidak terbatas itu sebenarnya relatif mengikuti persepsi manusia.

Dengan demikian, Tidak bisa dikatakan bahwa “Supply creates own demand” karena kebutuhan manusia terbatas. Kebutuhan akan barang dan jasa terbatas, sehingga tidak semua penawaran terserap pasar. Permintaan konsumen sangat terbatas, memaksakan untuk memproduksi barang atau jasa tanpa kesesuaian kebutuhan dan kondisi konsumen akan menyebabkan ketidakseimbangan pasar. Kebutuhan manusia terbatas, alat pemuas kebutuhan manusia juga terbatas. Bagaimana manusia memenuhi kebutuhan hidup yang terbatas tersebut dengan alat pemuas kebutuhan yang juga terbatas? inilah sebanarnya falsafah yang mendasari manusia untuk melakukan sesuatu kegiatan dan mengambil pilihan-pilihan. Jadi, Permasalahan ekonomi adalah bagaimana kebutuhan pokok setiap individu manusia terpenuhi dan adanya keleluasaan bagi setiap manusia untuk memenuhi kebutuhan pelengkapnya, dengan cara tertentu sesuai dengan nilai-nilai yang dianut oleh masyarakat.

Bagaimana kebutuhan pokok setiap manusia dapat terpenuhi? Jawabannya adalah produksi dan distribusi. Produksi adalah aktifitas untuk mengadakan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan sedangkan distribusi adalah aktifitas untuk menyampaikan barang dan jasa pemuas kebutuhan kepada masyarakat. produksi berkaitan dengan pertanyaan, 1. Barang apa yang akan diproduksi?, 2. Bagaimana barang diproduksi?, sedangkan distribusi berkaitan dengan pertanyaan?, 3. Untuk siapa barang yang diproduksi dan bagaimana mekanisme pendistribusiannya?

1. Barang apa yang akan diproduksi.
Berdasarkan teori kelangkaan, maka muncul apa yang disebut dengan barang ekonomi. Barang ekonomi merupakan barang yang jumlah permintaannya lebih banyak dibandingkan jumlah barang yang tersedia, sehingga barang tersebut memiliki nilai dan harga. Semakin banyak barang yang tersedia, maka semakin murah harganya, sebaliknya semakin sedikit jumlahnya maka semakin mahal harga. Barang ekonomi-lah yang menjadi pembahasan para ekonom, sedangkan barang yang jumlahnya besar dan jumlahnya melebihi permintaannya disebut barang bebas dan tidak dibahas.

Teori tentang barang ekonomi yang dilandasi dengan teori kelangkaan adalah teori yang lemah, karena pembahasan tentang barang ekonomi hanya memperhatikan permintaan saja. Barang disebut sebagai barang ekonomi bila ada permintaan atas barang tersebut. Dengan teori tersebut, maka barang-barang berbahaya pun dapat disebut sebagai barang ekonomi. Miras dan narkoba bisa disebut sebagai barang ekonomi karena permintaan akan barang tersebut, padahal jelas-jelas barang tersebut membahayakan masyarakat. Seharusnya untuk disebut sebagai barang ekonomi tidak cukup hanya permintaan atas barang tersebut, namun manfaat barang tersebut dan nilai yang dianut oleh masyarakat juga menjadi penentu apakah barang tersebut termasuk barang ekonomi yang akan diproduksi.

Manfaat barang berkaitan dengan kebutuhan manusia, yaitu apakah barang yang akan diproduksi adalah barang yang dibutuhkan oleh masyarakat atau malah membahayakan, sedangkan nilai yang dianut oleh masyarakat berkaitan dengan nilai yang dianut atau peraturan yang diterapkan dalam sebuah masyarakat.Seberapa banyak akan diproduksi? Jumlah produksi berkaitan dengan permintaan, sedangkan permintaan berkaitan dengan kebutuhan manusia baik kebutuhan pokok maupun kebutuhan pelengkap. Maka, tidak bisa dikatakan bahwa “Supply creates own demand” karena tidak selalu penawaran menciptakan permintaanya sendiri atau tidak selalu barang yang diproduksi terserap oleh pasar. Produksi atau penawaran selalu terikat dengan permintaan dan permintaan selalu terikat dengan kebutuhan manusia yang terbatas.

2. Bagaimana barang diproduksi
Masalah ini menyangkut teknik untuk memanfaatkan sumber daya untuk memproduksi barang yang dibutuhkan. Manusia selalu berusaha untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Manusia selalu mencari penemuan baru-baru. Dulu, petani hanya menggunakan cangkul dan pengairan hujan, namun kini berkembang dengan menggunakan traktor dan irigasi. Varietas unggul ditemukan sehingga umur padi lebih pendek dengan kualitas yang lebih baik. masalah ini menyangkut tehnologi yang senantiasa dikembangkan oleh manusia, dan sifat teknologi adalah netral atau tidak terikat dengan peradaban tertentu.

3. Untuk siapa barang yang diproduksi atau mekanisme distribusi?
Barang dan jasa tersebut diproduksi untuk memenuhi permintaan. Ruang lingkup permintaan bukanlah konsumen secara keseluruhan atau masyarakat pada umumnya, tetapi sekelompok konsumen atau sebagian masyarakat yang melakukan permintaan atas barang dan jasa yang ditawarkan produsen. Di mana kemampuan konsumen melakukan permintaan bergantung pada kekuatan daya belinya. Jadi hanya bagi konsumen yang mampulah barang dan jasa yang diproduksi diperuntukkan, bukan bagi orang-orang yang tidak mampu atau golongan miskin. Dua titik pertemuan antara “permintaan konsumen” yang memiliki kemampuan dengan penawaran produsen yang memiliki kemampuan produksi menghasilkan keseimbangan ekonomi (economic equilibrium). Harga menentukan siapa saja yang dapat masuk ke dalam area produksi dan siapa saja konsumen yang dapat mengkonsumsi barang dan jasa. Inilah yang dimaksud dengan harga sebagai metode distribusi ekonomi.

Distribusi bagi produsen adalah ketika harga (biaya produksi) menentukan harus berhenti berproduksi atau tetap mampu berproduksi. Bagi produsen yang tetap mampu berproduksi, maka ia harus mengevaluasi dan mengatur kembali barang apa saja yang diproduksi (termasuk masalah kualitas), berapa banyak harus diproduksi, dan kelompok konsumen mana yang dibidik.Distribusi bagi konsumen adalah ketika harga mengharuskannya menghitung-hitung kemampuannya dalam membeli barang dan jasa. Harga membuat sekelompok konsumen yang mampu dapat memenuhi segala kebutuhan dan keinginannya. Harga membuat sekelompok konsumen yang kurang kemampuannya untuk secara tidak penuh mengkonsumsi barang dan jasa yang dibutuhkannya. Harga pula membuat konsumen yang sama sekali tidak mampu untuk gigit jari karena tidak dapat mengkonsumsi barang yang dibutuhkannya.

Penutup

Dalam tulisan ini telah banyak membuka kebobrokan sebuah system capital. Yang tentunya harus kita hindari dengan hati-hati mengingat bahaya yang dibawa menimbulkan efek yang besar. Dengan artikel ini paling tidak bisa memberikan sebuah pencerahan dalam memahami permasalahan saat ini yang harus disertai dengan aplikasi yang nyata. Paling tidak ini telah membawa kita menuju sebuah pemahaman bahwasannya solusi kita saat ini adalah dengan berdirinya sebuah system syari’ah yang bisa mensejahterakan dunia. Dan kenapa harus syari’ah? Pertama, konsep ini dating dari yang Maha Kuasa dan Maha Mengetahui yaitu Allah SWT. Kedua, tidak ada konsep lagi yang bisa menandingi konsep syari’ah. Karena kita semua telah memahami bagaimana buruknya system yang dibuat oleh tangan manusia baik itu capital ataupun sosialis.
Kondisi krisis saat ini bisa jadi disebabkan ketidaktahuan masayrakat umum tentang system syari’ah yang selama ini tertutup oleh system capital. Dan diharapkan kepada para pembaca paling tidak harus bisa memberikan informasi ini (da’wah) kepada masyarakat umum. Sebagaimana hadits nabi “ Sampaikanlah ajaranku walau satu ayat”. Jika kita tahu masalah tentang ekonomi syari’ah maka harus bisa menda’wahkannya bagi masyarakat yang belum tahu. Jika demikian suatu saat nanti akan tercipta sebuah ketentraman bagi semua dibawah panji khilafah islamiyah.



DAFTAR PUSTAKA

Al-Badri, A. A. 1992. Hidup Sejahtera dalam Naungan Islam (terj.). Penerbit Gema Insani Press, Jakarta.

Mannan, M.A., 1993. Teori dan Praktek Ekonomi Islam. Penerbit PT. Dana Bhakti Wakaf, Yogyakarta.

Qardhawi, Y., 1995. Peran Nilai dan Moral dalam Perekonomian Islam (terj.). Penerbit Robbani Press. Jakarta.

Website www.hayatulislam.net

Website www.hizbut-tahrir.or.id

Website www.khilafah1924.org

3 comments:

Nuha said...

Cepat ato lambat Kapitalisme pasti akan hancur seperti yg pernah dialami oleh paham Komunis. Krn ke-2 paham tsb datangnya dr manusia. Cuma Islam satu-satunya solusi buat mecahin segala problematika yg dihadapi umat. Masyarakat skrng masih enggan menoleh ke Sistem ekonomi Islam krn pola pikir mereka masih matrealistik n sekuleristik (misahin agama dgn kehidupan). Makanya qt ga boleh lelah buat provokasi mereka biar lebih "Ngeh" ma Syariah

Anonymous said...

Hmmm...That's Great, ekonomi syari'ah terbukti ampuh membasmi nyamuk (lho?) maksudnya bisa memberikan solosi. Sejarah membuktikan ekonomi syari'ah bertahan selama kurang lebih 13 abad, sedangkan kapital blum seabad dah keok, tuk nggak cing? Kembangkan teruz blognya...do'aku menyertaimu

Sudarmawan Jebolan Al Fattah said...

belum ada komentar, coz belum baca isinya

Post a Comment