Dari seluruh ajaran agama yang ada di dunia ini, islam memiliki karakter berbeda dan paling sempurna yang mampu memberikan solusi atas semua permasalahan hidup manusia. Aturan – aturan yang dimiliki tidak hanya sekedar ritual saja, melainkan semua aktivitas harian adalah bentuk ritual (ibadah) kepada Allah. Sehingga hidup ini bisa lebih berarti dan “lebih punya taste” juga tidak ada nilai yang sia – sia dalam menjalani kehidupan. Bahkan jika kita melakukan kegiatan ekonomi, itu bukanlah sebuah hal yang bersifat duniawi dan matrealistis saja. Ini bisa menjadikan sebuah ladang pengabdian kita kepada yang menurunkan syari’at (jika itu memang dilaksanakan dengan benar). Maka jangan khawatir tentang hadits “ Sungguh rugi budak dinar dan budak perut mereka sendiri”, karena semua sudah ada aturannya jika ingin kebahagiaan dunia dan akhirat.
Generasi muslim seharusnya bisa menjadi pelopor dalam memberikan keteladanan pada tatanan masyarakat dunia, yang dimana kondisi global saat ini sedang mengalami kemerosotan moral secara total. (sekali lagi) Seharusnya generasi muslim bisa menyadari kondisi seperti ini. Bukan malah ikut terperosok dalam jurang – jurang kekufuran. Dan pemandangan ini (menurut saya) adalah sebuah tindakan konyol, menggelikan dan sekaligus menyedihkan. Bagaimana tidak generasi yang digadang-gadang sebagai ummat terbaik justru mengganti identitas mereka dengan identitas kekafiran yang hina. Selaku generasi Islam yang meyakini bahwa islam adalah agama yang mulia dan tinggi kedudukannya, pantang menyebutkan kekasih mereka adalah Rasulullah Muhammad SAW, pantang mengaku kitab pedoman adalah Al qur’an jika tidak pernah meyakini kebenarannya dan melaksanakan ajarannya. Pantaskah seorang yang hina dan kotor bisa membawa beban suci ? Jawabnya tidak akan bisa, justru ia akan menambah kefasikan dan kekufuran mereka sendiri.
Anehnya ketika mereka kehilangan identitas mereka bukannya mencari jati diri mereka yang hilang malah mengganti dengan jati diri “murahan” dan mereka merasa bangga. Saat ini kebanyakan dari generasi Islam merasa mulia dan berbanga-ria dengan girang mandi dengan lumpur kekufuran, yang mereka kira dengan lumpur itu bisa memberi kemulyaan. Mereka sangat banga sekali ketika bisa berjingkrak – jingkrak di depan umum ketika ada mendengar alunan musik. Bahkan mereka rela menebus harga diri seperti ini dengan harta dan jiwa. (ingat tragedi konser musik). Mereka sungguh tidak peduli tentang itu semua, bahkan ketika dituntut untuk melepas jilbab dan mengumbar auratnya (bahkan tampil) telanjangpun mereka rela hanya dengan alasan tuntutan pekerjaan atau banyak lagi alasan mereka utuk menutupi ketidakmampuan mereka dalam menjalankan perintah Allah SWT. Sungguh aneh bukan ?
Sungguh benar Allah yang telah menjadikan orang-orang pilihan itu sedikit jumlahnya. Dan kebanyakan dari manusia adalah sesat dan kelak menjadi ahli neraka. Atau apakah ini sebuah taqdir setiap orang bahwa jalan mereka benar atau sesat ?. Lalu dimanakah letak hidayah? yang jelas Allah itu Maha Adil dan Bijaksana. Ia akan memberikan Hidayah-Nya kepada orang yang bersungguh-sungguh mencarinya. Hidayah tidak akan diberikan kepada siapa saja yang tidak menginginkannya. Permasalahannya bukan terletak pada hidayahnya tetapi pada kemauan tiap orang yang menginginkannya.(mnz)
IDENTITAS MUSLIM
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
2 comments:
Emang sih...bener2 dech jaman skrng smuanya dah kebolak-balik. "tuntunan" cuma dijadikan "tontonan", tontonan malah jadi tuntunan.
Kebenaran biasanya sekedar mereka lihat dr banyaknya pengikut (banyaknya orng yg melakukan)bukan dari sumber datangya
mohon yang mengirimkan ini menyertakan nama lengkapnya.
Post a Comment