PERTAHANKAN SAKHSIYAH UMMAT

Umat Islam hari ini diskenario untuk menganggap dirinya bukan sebagai sebagian umat islam yang lain. Menganggap diri bukan sebagai agen perubahan dari kerusakan dan problema yang berlaku kini. Dibuat untuk menjauhkan diri bila menyentuh soal Islam, tidak peduli tentang keadaan masyarakat dan dunia.

Umat Islam telah dibentuk menjadi “kita” adalah “kita”, tidak ada kaitannya dengan Islam. Tidak berperan untuk Islam. Tidak menyediakan dan memperlengkapkan diri untuk Islam. Kita khayal dengan dunia kita sendiri. Hati dan pikiran kita tidak untuk Islam. Golongan remaja cara remaja. Golongan tua cara tua.

Begitulah umat telah dipaksa menghabiskan sisa-sisa hidup ini. Umat Islam menjadi umat Islam yang rugi. Karena dipaksa bahwa Islam adalah Islam ritual saja. Di ekonomi ikuti ekonomi bukan Islam, di politik jalankan politik bukan Islam, begitu pula urusan sosial, budaya, seni, tradisi, dan perkara lainnya.

Walaupun menunaikan sholat, membayar zakat dan megerjakan kewajiban yang lain, tetapi memerah telinganya, terbelalak matanya, menggeletar tangan dan kakinya apabila dipanggil untuk bersama Islam dalam seluruh aspek kehidupan, seolah-olah ia merupakan seruan baru yang tidak pernah wujud sebelum ini dan dianggap mengajak ke suatu zaman yang gelap gulita.

Umat Islam tidak boleh meletakkan Islam sebagai institusi perjuangan. Agama hanyalah wasilah untuk mencapai dunia, bukan menjadikan kedudukan sebagai waasilah untuk kepentingan agama. Agama harus diletakkan jauh di penjuru sudut hati dan memusatkan dunia sebagai tujuan akhir kehidupan. Sanggup menjual agama dengan harga yang murah semata-mata untuk dunia. Sanggup mempergadaikan harga diri dan agama untuk menjilat kemanisan dunia yang sedikit.

0 comments:

Post a Comment